Orang Meninggal Itu Jadi Hantu ya Yah? : Cara Anak Memahami Kematian

Anak saya mulai mengetahui tentang kematian sebelum usianya 5 tahun, waktu nenek buyut dari ibunya meninggal dunia. Cuma ya, ia belum mengerti bagaimana sih sebenarnya kematian. Tentang kematian juga didapat dari temannya. Ia menceritakan kalau teman mainnya yang sering datang ke rumah merupakan anak yatim. Ayahnya sudah meninggal, sudah lama sekali.

Anak saya membicarakan tentang ayah temannya yang telah meninggal beberapa kali, mungkin dia penasaran apa tentang kematian tersebut.

Arden : Yah katanya, ayah si Antonio (Nama disamarkan) udah lama meninggal.
Ayah : Oh, anak yatim dong ya. 
Arden : Iya yah… Yah kalo orang meninggal nanti jadi hantu ya Yah.
Ayah : Jadi mayat Ade, dikuburin…
Arden : Oooo, abis itu jadi hantu?
Ayah : Enggak. ya dikuburan aja selamanya. 
Arden : Oh jadi enggak betul dong ya yah, ayah si Antonio jadi hantu?
Ayah : Waduh. Yah enggaklah.
Arden : Kasihan juga ya yah, kalo jadi anak hantu.

Kematian sering menjadi topik sulit sekali disampaikan kepada anak. Banyak orang tua tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian pada anak mereka. Menemukan kata-kata yang tepat dan jawaban yang benar untuk semua pertanyaan yang dimiliki anak tentang kematian bukanlah tugas yang mudah bagi orang tua.

Lalu, Orang tua bisa jadi belum mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan anaknya ketika ada anggota keluarga yang meninggal atau seperti kasus anak saya yang belum mengerti tentang kematian ayah temannya. Padahal, seperti orang dewasa, anak juga harus menghadapi masa kehilangan dari orang yang telah meninggal. Anak mungkin bertanya-tanya kemana nenek, ayah, ibu, atau saudaranya setelah meninggal dunia. Kok enggak pernah lagi ikut berkumpul Bersama lagi?

Menurut seorang pemerhati anak, Matthew Lorber, direktur utama Child and Adolescent Psychiatry di Lenox Hill Hospital di New York City, anak-anak sangat tanggap merespon kejadian yang dialaminya. Ketika melihat ada orang meninggal, mereka akan menciptakan sebuah cerita dalam pikiran mereka sendiri dan membayangkan tentang peristiwa kematian. Ya seperti percakapan di atas itu contohnya, anak saya membayangkan orang yang meninggal akan menjadi hantu.

Pernyataan Lorber diamini oleh Emily Touchstone dari Universitas Texas di Dallas, anak-anak menghadapi kesedihan yang tidak sama dengan orang dewasa. Bahkan, banyak orang dewasa percaya bahwa anak-anak terlalu muda untuk memahami betapa menyedihkannya kematian itu. Sehingga, tidak pernah menjelaskan kepada anak, padahal mereka bertanya-tanya kenapa orang yang telah meninggal tak pernah kembali lagi ke rumah.

Anak-anak mengalami kesedihan ditinggalkan orang yang dicintainya

Seperti orang dewasa, anak-anak mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai. Anak mengetahui terjadinya kematian, namun tidak sebaik orang dewasa. Jelaskan kepada anak tentang  kematian yang sesungguhnya. Jangan menggunakan kata pengganti seperti ‘tidur yang lama’ atau ‘pergi jauh’, karena bisa membingungkan anak-anak. Jangan sampai anak bertanya, “Kenapa tidur  kok enggak bangun-bangun? Ibu kenapa?” Jreng, lalu tiba-tiba ibu ada disampingnya. Kan horor ya.

Baca juga : 4 Tips Agar Anak Bisa Mengelola Emosi Mereka

Ceritakanlah penyebab kematian, seperti penyakit, kecelakaan, atau meninggal mendadak. Katakan yang sebenarnya. Orang tua bisa menjelaskan sesederhana mungkin. Misalnya manusia mengalami siklus alami, dilahirkan, hidup menjadi anak-anak, masa remaja, berubah dewasa, mengalami masa tua, selanjutnya terjadi kematian. Anak akan memahami secara perlahan tentang peristiwa kematian. Coba terangkanlah.

Jelaskan orang dewasa merasakan duka 

Jika salah satu orang dalam keluarga meninggal dunia, jelaskan kepada anak-anak dan bantu mereka memahami kalau anggota keluarga mengalami masa duka. Semuanya sedang mangalami kesedihan. Misalnya, Kakek sedih karena nenek sebagai kekasih hatinya sudah meninggal. Ayah menangis karena ditinggalkan ibu.

Anak-anak biasanya merasa kehilangan, namun belum begitu baik dalam dalam memahami kematian. Anak akan memperhatikan apa yang terjadi pada orang dewasa ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Berbicara dengan anak-anak segera dan memastikan bahwa orang tua mengalami duka yang sama seperti apa yang dirasakan oleh mereka.

Membahas Kematian dengan Anak-anak

Orang tua harus membicarakannya tentang terjadinya kematian dengan anak-anak. Kematian telah terjadi dan anak harus siap ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Suasana kesedihan di rumah dapat mempengaruhi sikap anak, karena suasana menjadi tidak menyenangkan. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menjelaskan kepada anak-anak apa yang sedang terjadi dan mengapa mereka sedih dan semua orang menjadi sangat murung.

Orangtua harus menjelaskannya dengan kata-kata yang bisa dimengerti anak-anak mereka dan lebih sederhana. Orangtua harus memberi tahu anak mereka fakta dan biarkan mereka bertanya tentang kondisi orang yang meninggal, hingga mereka dapat memahaminya.

Kristin Zolten, M.A. & Nicholas Long, Ph.D., dari Department of Pediatrics, University of Arkansas, menjelaskan bahwa Pemahaman anak tentang kematian bergantung pada tingkat perkembangan mereka.

Usia 2-6 tahun. Anak-anak berusia antara dua dan enam tahun biasanya tidak mengerti tentang terjadinya kematian. Bagi mereka, kematian adalah sesuatu yang bersifat sementara. Banyak anak usia 2-6 tahun mungkin tampak tidak terpengaruh oleh kematian orang yang dicintai. Mereka mungkin percaya bahwa orang yang meninggal akan kembali lagi. Orang tua harus menjelaskan kepada mereka kalau yang meninggal tidak akan kembali ke rumah.

Usia 6-9 tahun. Sekitar usia 6 tahun, kebanyakan anak mulai mengerti bahwa kematian akan mengakhir masa hidup manusia di dunia. Meski pemahaman tersebut belum lengkap. Misalnya, anak-anak seusia ini mungkin merasa kematian sebagai sesuatu yang hanya terjadi pada orang tua atau orang lain. Mereka bisa saja mengira kalau anak-anak tidak akan meninggal. Anak-anak mungkin tidak dapat menerima kenyataan bahwa kematian terjadi pada semua orang.

Usia 9-12 tahun. Beberapa anak di kelompok usia ini mulai memahami kabar yang diberikan orang dewasa tentang kematian. Orangtua harus menjelaskan kalau ada orang terdekat mereka yang telah meninggal.

Masa remaja. Mereka biasanya menyadari kejadian kematian. Meskipun, mereka memiliki pemahaman ini, mereka masih membutuhkan penjelasan dari orang tua dan orang yang dicintai. Orang tua jangan menyembunyikan kematian karena membuat mereka merasa bingung apa sebenarnya yang terjadi.

Masa kesedihan dialami semua orang ketika menghadapi kejadian kematian. Anak-anak pun merasakan hal yang sama seperti orang dewasa. Biarkan anak-anak merasa sedih, karena kehilangan orang yang dicintai. Orang tua harus mendampingi anak-anak mereka selama masa berkabung. Orang tua juga tidak menyembunyikan kesedihan orang tua. Pada masa yang menyedihkan, anak-anak perlu mengetahui bahwa orang tua mereka peduli terhadap mereka.

 

Ayah blogger membaca sumbernya dari website di bawah ini.

http://www.parenting.com

https://www.handinhandparenting.org

http://parenting-ed.org

8 thoughts on “Orang Meninggal Itu Jadi Hantu ya Yah? : Cara Anak Memahami Kematian

  1. Topik yang menarik. Saya pernah membaca buku cerita anak tentang menyampaikan kematian pada anak. Memang harus dijelaskan, bukan ditutupi. Orang meninggal tidak akan kembali namun kita dapat mendoakan almarhum.

  2. Aku jadi ingat ketika anak masih kecil, kakeknya meninggal. Dia termenung, mungkin belum paham. Aku jelaskan perlahan, jadi tahu bahwa ga bakal ketemu lagi di rumah. Nangis deh

    1. seperti anak ayah, ketika neneknya meninggal dan dijelaskan. Akhirnya dia mengerti dan bilang Ayah jangan ikutan meninggal ya. takut kehilangn jadinya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *