Keluarga, Uncategorized

Wabah Difteri Versus Orang tua Anti Vaksin

Wahai para ayah, tolong jangan menjadi orang tua antivaksin yang mengakibatkan anak anda terjangkit difteri. Anak berhak untuk sehat dan anda tahu keterlibatan diri anda sangat menentukan untuk memberi vaksin bagi anak anda. Jaga kesehatan dan berbagi peran yang sama dengan istri anda. Termasuk tentang vaksin.

Paragrap pembuka tulisan ini adalah bentuk kekhawatiran saya tentang penyakit difteri. Setelah membaca betapa ketidaktahuan dan keengganan orang tua yang tidak memberikan vaksin, padahal difteri berdampak langsung terhadap hak kesehatan anak. Penyakit keburu menjadi ancaman kesehatan anak-anak yang tidak diberikan vaksin.

Difteri Penyakit Berbahaya

Difteri merupakan penyakit menular akibat kuman Corynebacterium Diptheriae menjadi berita yang menghebohkan bagi orang tua. Saya sendiri begitu khawatir banyak anak-anak diluar sana yag akan terjangkit difteri. Biar tahu saja hingga November 2017, ada 11 provinsi melaporkan kejadian luar biasa difteri. Hal yang menyakitkannya, ada 593 kasus dan 32 orang terdampak difteri meninggal dunia. Masalah semakin besar, ketika diketahui sekitar 95 kab/kota di 20 provinsi melaporkan kasus difteri.

Dampak sebaran penyakit yang bisa dikatakan berbahaya. Apalagi penyakit difteri ini menular. Lalu, kenapa penyakit ini bisa begitu besar menjangkiti hingga 11 provinsi berkategori kejadian luar biasa. Penyebabnya adalah orang tua. Ayah dan ibu sebagai penanggung jawab utama anak adalah orang yang paling bertanggung jawab.

Mencegah Wabah Bakteri dengan Imunisasi
Mencegah Wabah Bakteri dengan Imunisasi

Ada banyak orang tua yang enggak memberikan imunisasi kepada anak-anaknya. Apalagi ternyata ada orang tua menjadi golongan yang anti vaksin. Mereka menolak imuniasi dan pemberian vaksin dengan berbagai alasan. Meski penjelasan demi penjelasan sudah diedarkan tentang begitu berbahayanya, jika anak tidak divaksin.

Wahai Ayah dan Ibu yang sayang anaknya, kita harus menyadari harus melindungi anak-anak terhadap kerentanan penyakit. Kita juga harus tahu kalau imunisasi sangat penting untuk menghindarkan anak dari risiko yang tak diinginkan. Ada beberapa hal yang harus kita ketahui tentang difteri.

Baca Juga : Bahaya Merokok Bagi Anak dan Penyakit yang Mengikutinya

Wabah Difteri? Kok Baru Tahu Ya

Dari portal berita online CNN, Dokter Soedjatmiko, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan difteri merupakan penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium Diptheriae dengan mudah menular melalui batuk atau bersin.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh juga menjelaskan Kuman yang terpapar mengakibatkan daya tahan tubuh menjadi lemah. Hal tersbeut terjadi bakteri paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung, lalu membentuk selaput putih dan tebal. HIngga penyakit ini menutupi saluran pernapasan.

Bakteri ini berbahaya dan bisa mengeluarkan racun atau toksin berdampak melumpuhkan otot jantung, dan saraf. Racun tersebut menjadi sebab kematian. Difteri menyerang bayi  anak-anak, dan remaja.

Kenapa Anak Bisa Terjangkit Difteri?

Seperti yang saya sebutkan dalam paragraph pertama, mayoritas atau dua pertiga orang yang terkena difteri. Karena belum pernah diimunisasi sama sekali, atau tidak diberikan imunisasi DPT. Jenis imunisasi tersebut dapat mencegah difteri.  Ada banyak orang tua juga yang anaknya diimunisasi tetapi tidak lengkap.

Dokter Soedjatmiko menjelaskan bahwa idealnya anak usia sampai 1 tahun DPT mendapatkan tiga kali, umur 2 tahun memperoleh 4 kali DPT, dan umur 5 tahun itu dapat 5 kali DPT. Selanjutnya, anak umur 6 tahun mengikuti 6 kali DPT, umur 7 tahun itu hingga 7 kali DPT, sampai tamat SD kalau bisa sudah 8 kali DPT. Lalu, anak dengan umur di atas 7 tahun, diberikan vaksin Td.

orang tua antivaksin versus difteri
orang tua antivaksin versus difteri

Difteri bisa dikenali dengan mengecek tenggorokan dan hidung. Kalau ditemukan selaput putih tebal apalagi terjadi pembengkan dileher, ayah dan ibu harus waspada. Segera periksa ke dokter.Jangan menunggu lama, bawa anak ke puskesmas, atau RS terdekat.

Segera Lakukan Tindakan Pengobatan

Apabila terbukti telah terserang difteri, maka harus dirawat inap dan diberikan antibiotik. Penyakit difteri semakin berbahaya, setelah bakteri mengeluarkan racun atau toksin yang mengganggu fungsi jantung dan saraf.

Orang disekitarnya pun harus diperiksa, untuk mencegah dan mengetahui apakah orang lain atau anggota keluarga aman dari difteri. Mereka yang pernah dekat dengan pasien, mesti mendapatkan imunisasi atau diberikan vaksin.

Risiko Difteri

Orang yang telah didiagnosa bisa meninggal dunia, tergantung tingkat keparahan. Orang yang meninggal dunia, karena difteri tersebut karena tidak diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap. Parahnya lagi, kalau orang tersebut telat dibawa ke rumah sakit. Orang terdampak difteri harus segera ditangani.

Apabila diketahui selaput putih-putih di tenggorokan, dan di hidung, maka segera orang yang sakit ke rumah sakit. Kalau terlambat biasanya meninggal atau terpaksa dibolongi lehernya, agar dapat bernafas.

Pemerintah mengadakan Outbreak Response Immunization (ORI)

Jangan Antivaksin versus difteri. https://www.instagram.com/kemenkes_ri/
Jangan Antivaksin versus difteri. https://www.instagram.com/kemenkes_ri/

Oleh karena difteri menjadi kejadian luar biasanya, Pemerintah melaksanakan ORI atau imunisasi pada daerah yang terbukti terdampak paling parah. Ada tiga provinsi memiliki kasus difteri paling besar, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Pemerintah mengadakan ORI pada 11 Desember 2017, 11 Januari 2017 dan 11 Juli 2018.

Tindakan ORI tersebut melingkupi 95 % sasaran imunisasi, dengan tujuan menguatkan kekebalan kelompok. Sehingga risiko kemunculan atau penularan difteri jauh berkurang.

Wabah ini bukan penyakit baru dan pernah terjadi pada tahun 2009. Wabah difteri bisa terus terjadi karena begitu banyak anak yang tidak diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap.

Baca juga : Kalau Kamu Korupsi, Ayah Bisa Apa Nak?

Minat Orang tua Melakukan Imunisasi Semakin Turun

Orang tua semakin enggan memberikan imunisasi kepada anaknya dalam dua atau tiga tahun terakhir. Peningkatan penolakan terhadap imunisasi semakin besar karena pengaruh media sosial. Hal tersbeut membuat pendukung anti-vaksin semakin besar. Ada pula orang tua yang ikut-ikutan tidak mau memberikan vaksin bagi anaknya. Nah, jumlah orang tua yang semakin banyak tidak memberikan vaksin bagi anaknya. Padahal, berakibat langsung terhadap semakin tingginya wabah difteri di berbagai provinsi.

Untuk diketahui, adapun 11 provinsi itu antara lain: Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.

Jadi wahai Ayah dan Ibu, marilah peduli terhadap akibat mengerikannya penyakit difteri ini. Orang tua harus memberikan imunisasi kepada anak-anak. Jangan sampai, anak tercinta kita menjadi salah satu orang yang terkena penyakit difteri. Berikan imunisasi atau anak akan terkena difteri.

 

21 thoughts on “Wabah Difteri Versus Orang tua Anti Vaksin

  1. Suka gemes dg ortu yg sok sok an antivaksin pdhal tdk memiliki pengetahuan yg cukup ttg vaksin. Tdk paham tp lgsg menolak,itu kan konyol. Pdhal imunisasi diperlukan utk meningkatkan sistem imunitas anak.

  2. Masih banyak yg beranggapan vaksin itu cara halus kaum yahudi untuk membunuh perlahan umat islam. Khusunya di daerah yang agamis. Lah bukannya kebalik ya yg enggak divaksin justru yg rentan sakit?

  3. Sedih banget ada kasus KLB difteri. padahal mestinya udah gak ada ya. Dan sedih juga kalau liat status atau komentar ortu yang antivaks.. 🙁 Medsos pengaruhnya besar banget jadi yg antivaks makin berkembang.. 🙁

  4. bayi ku sudah 15 bulan dan kalau ga salah sudah 2 atau 3x DPT. menurut aku sih imunisasi itu hak anak, jadi orang tua jangan egois. kasihan anak nya.. mereka kan harus dapat tameng dari penyakit

  5. Sedih bacanya. Moga anak2 terlindungi ya dari segala penyakit. Anak2 drmh imunisasi lengkap. Alhamdulillah.. si adik tinggal yg ke 4 nih belum. Makasih ayah tulisannya

  6. Gagal paham ama ortu yg anti vaksin ini.. Buatku mah vaksin itu penting banget. Ga pengen aja anak2 nanti sakit hanya krn aku ga ksh vaksinnya. Dulu pas Sd, ada temen sekelasku yg polio mas. Dulu msh anak2, aku ga ngerti apa itu polio. Yg aku tau temenku ini jalannya ga normal seperti anak2 yg lain. Baru setelah gedean aku tau itu krn ortunya lalai memberikan vaksin polio. Sedih kan jadinya. Yg lalai ortu, tp anak yg jd korban:(

  7. Antivaksin buru2 punah deh di Indonesia! sebel banget kalau sampai jadi wabah gini, gak usah cari celah deh soal vaksin.. apa lagi difteri ya, salah satu pencegahannya ya kan emang harus vaksin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *