Secangkir Teh Manis Pengingat Rindu Tentang Bapak

Setiap hari kerja pada pukul 4.30 sore, ibuku selalu siap dengan secangkir teh manis panas, ritual menyambut Bapak pulang kerja. Ibu sudah menakar dengan pas panasnya, sehingga ketika Bapak sampai di rumah, teh tersebut siap diseruput tanpa membuat bibir jebleh kepanasan.

Foto : Rima Maimunah

Bertahun-tahun ritual ini dilakukan oleh ibu. Aku kadang ikut menyambut siap-siap di pintu untuk membuka sepatu beliau, pantofel hitam dengan kaos kaki hitam atau coklatnya. Setiap hari pembayaran gaji, Bapak selalu membawakan kami es grim, tanda bahwa beliau sudah gajian pada hari itu. Jadi bisa dipastikan, aku bisa menikmati es grim ya sebulan sekali, bahagianya bukan kepalang 😂.

Ini memang bukan cangkir yang sama yang selalu dipakai ibuku untuk menyajikan teh untuk Bapak, dan ini juga bukan es grim yang sama yang dibelikan Bapak untuk kami menyantap bersama di rumah. Tetapi ini adalah perwakilan hatiku, perwakilan rindu, pengingat bahwa ada berbagai kebiasaan Bapak yang aku takut lupa karena seiring berjalannya waktu. Aku berupaya menjaga ingatanku tentang Bapak.

Baca juga : 10 Cara Mudah Menjadi Orang Tua Hebat

Bapak memang tidak sempat hadir di wisudaku, hanya ibuku dan adiknya, tetapi beliau adalah orang pertama yang mengantarkanku ke kampus tempatku menempuh pendidikan.

Bapak memang tidak sempat merasakan gaji pertamaku, tetapi dari beliau aku meniru kesungguhan dan kejujuran bekerjanya. Bapak memang tidak sempat menjabat tangan calon suamiku untuk mengucap ijab (yang diwakilkan pamanku satu-satunya yang masih ada, terimakasih paman ), tetapi nama Bapak tersebut di belakang namaku Rima Maimunah binti Suriyan Makkie).

Bapak memang tidak lagi hadir secara fisik, tapi hatinya, semangatnya, hangatnya selalu ada bersamaku, sampai kapanpun, selamanya.

Alfatihah.
Suriyan Makkie bin M.Makkie 😌👨👧🌻🌹

Ditulis oleh Rima Maimunah

Ada begitu banyak kenangan tentang Bapak atau Ayah dari anak-anaknya. Apalagi ketika Bapak sudah tiada. Hasil didikannya dan kerja keras Bapak dapat membimbing kita untuk melakukan banyak hal baik di dunia ini.

Bapak memberikan semua ketulusan dan menjaga hati anaknya untuk tetap kuat meski tanpa dirinya ada di samping anak-anaknya. Begitulah, akhirnya ketulusan Bapak berbalas kasih sang anak yang menyayangi Bapak tanpa koma hingga tutup usia. Terima kasih Bapak untuk semua cinta dan sayang tak terbatas.

Selamat Hari Ayah Nasional, 12 November 2017.

Orang Meninggal Itu Jadi Hantu ya Yah? : Cara Anak Memahami Kematian

Anak saya mulai mengetahui tentang kematian sebelum usianya 5 tahun, waktu nenek buyut dari ibunya meninggal dunia. Cuma ya, ia belum mengerti bagaimana sih sebenarnya kematian. Tentang kematian juga didapat dari temannya. Ia menceritakan kalau teman mainnya yang sering datang ke rumah merupakan anak yatim. Ayahnya sudah meninggal, sudah lama sekali.

Anak saya membicarakan tentang ayah temannya yang telah meninggal beberapa kali, mungkin dia penasaran apa tentang kematian tersebut.

Arden : Yah katanya, ayah si Antonio (Nama disamarkan) udah lama meninggal.
Ayah : Oh, anak yatim dong ya. 
Arden : Iya yah… Yah kalo orang meninggal nanti jadi hantu ya Yah.
Ayah : Jadi mayat Ade, dikuburin…
Arden : Oooo, abis itu jadi hantu?
Ayah : Enggak. ya dikuburan aja selamanya. 
Arden : Oh jadi enggak betul dong ya yah, ayah si Antonio jadi hantu?
Ayah : Waduh. Yah enggaklah.
Arden : Kasihan juga ya yah, kalo jadi anak hantu.

Kematian sering menjadi topik sulit sekali disampaikan kepada anak. Banyak orang tua tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian pada anak mereka. Menemukan kata-kata yang tepat dan jawaban yang benar untuk semua pertanyaan yang dimiliki anak tentang kematian bukanlah tugas yang mudah bagi orang tua.

Lalu, Orang tua bisa jadi belum mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan anaknya ketika ada anggota keluarga yang meninggal atau seperti kasus anak saya yang belum mengerti tentang kematian ayah temannya. Padahal, seperti orang dewasa, anak juga harus menghadapi masa kehilangan dari orang yang telah meninggal. Anak mungkin bertanya-tanya kemana nenek, ayah, ibu, atau saudaranya setelah meninggal dunia. Kok enggak pernah lagi ikut berkumpul Bersama lagi?

Menurut seorang pemerhati anak, Matthew Lorber, direktur utama Child and Adolescent Psychiatry di Lenox Hill Hospital di New York City, anak-anak sangat tanggap merespon kejadian yang dialaminya. Ketika melihat ada orang meninggal, mereka akan menciptakan sebuah cerita dalam pikiran mereka sendiri dan membayangkan tentang peristiwa kematian. Ya seperti percakapan di atas itu contohnya, anak saya membayangkan orang yang meninggal akan menjadi hantu.

Pernyataan Lorber diamini oleh Emily Touchstone dari Universitas Texas di Dallas, anak-anak menghadapi kesedihan yang tidak sama dengan orang dewasa. Bahkan, banyak orang dewasa percaya bahwa anak-anak terlalu muda untuk memahami betapa menyedihkannya kematian itu. Sehingga, tidak pernah menjelaskan kepada anak, padahal mereka bertanya-tanya kenapa orang yang telah meninggal tak pernah kembali lagi ke rumah.

Anak-anak mengalami kesedihan ditinggalkan orang yang dicintainya

Seperti orang dewasa, anak-anak mengalami kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai. Anak mengetahui terjadinya kematian, namun tidak sebaik orang dewasa. Jelaskan kepada anak tentang  kematian yang sesungguhnya. Jangan menggunakan kata pengganti seperti ‘tidur yang lama’ atau ‘pergi jauh’, karena bisa membingungkan anak-anak. Jangan sampai anak bertanya, “Kenapa tidur  kok enggak bangun-bangun? Ibu kenapa?” Jreng, lalu tiba-tiba ibu ada disampingnya. Kan horor ya.

Baca juga : 4 Tips Agar Anak Bisa Mengelola Emosi Mereka

Ceritakanlah penyebab kematian, seperti penyakit, kecelakaan, atau meninggal mendadak. Katakan yang sebenarnya. Orang tua bisa menjelaskan sesederhana mungkin. Misalnya manusia mengalami siklus alami, dilahirkan, hidup menjadi anak-anak, masa remaja, berubah dewasa, mengalami masa tua, selanjutnya terjadi kematian. Anak akan memahami secara perlahan tentang peristiwa kematian. Coba terangkanlah.

Jelaskan orang dewasa merasakan duka 

Jika salah satu orang dalam keluarga meninggal dunia, jelaskan kepada anak-anak dan bantu mereka memahami kalau anggota keluarga mengalami masa duka. Semuanya sedang mangalami kesedihan. Misalnya, Kakek sedih karena nenek sebagai kekasih hatinya sudah meninggal. Ayah menangis karena ditinggalkan ibu.

Anak-anak biasanya merasa kehilangan, namun belum begitu baik dalam dalam memahami kematian. Anak akan memperhatikan apa yang terjadi pada orang dewasa ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Berbicara dengan anak-anak segera dan memastikan bahwa orang tua mengalami duka yang sama seperti apa yang dirasakan oleh mereka.

Membahas Kematian dengan Anak-anak

Orang tua harus membicarakannya tentang terjadinya kematian dengan anak-anak. Kematian telah terjadi dan anak harus siap ditinggalkan oleh orang yang mereka cintai. Suasana kesedihan di rumah dapat mempengaruhi sikap anak, karena suasana menjadi tidak menyenangkan. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menjelaskan kepada anak-anak apa yang sedang terjadi dan mengapa mereka sedih dan semua orang menjadi sangat murung.

Orangtua harus menjelaskannya dengan kata-kata yang bisa dimengerti anak-anak mereka dan lebih sederhana. Orangtua harus memberi tahu anak mereka fakta dan biarkan mereka bertanya tentang kondisi orang yang meninggal, hingga mereka dapat memahaminya.

Kristin Zolten, M.A. & Nicholas Long, Ph.D., dari Department of Pediatrics, University of Arkansas, menjelaskan bahwa Pemahaman anak tentang kematian bergantung pada tingkat perkembangan mereka.

Usia 2-6 tahun. Anak-anak berusia antara dua dan enam tahun biasanya tidak mengerti tentang terjadinya kematian. Bagi mereka, kematian adalah sesuatu yang bersifat sementara. Banyak anak usia 2-6 tahun mungkin tampak tidak terpengaruh oleh kematian orang yang dicintai. Mereka mungkin percaya bahwa orang yang meninggal akan kembali lagi. Orang tua harus menjelaskan kepada mereka kalau yang meninggal tidak akan kembali ke rumah.

Usia 6-9 tahun. Sekitar usia 6 tahun, kebanyakan anak mulai mengerti bahwa kematian akan mengakhir masa hidup manusia di dunia. Meski pemahaman tersebut belum lengkap. Misalnya, anak-anak seusia ini mungkin merasa kematian sebagai sesuatu yang hanya terjadi pada orang tua atau orang lain. Mereka bisa saja mengira kalau anak-anak tidak akan meninggal. Anak-anak mungkin tidak dapat menerima kenyataan bahwa kematian terjadi pada semua orang.

Usia 9-12 tahun. Beberapa anak di kelompok usia ini mulai memahami kabar yang diberikan orang dewasa tentang kematian. Orangtua harus menjelaskan kalau ada orang terdekat mereka yang telah meninggal.

Masa remaja. Mereka biasanya menyadari kejadian kematian. Meskipun, mereka memiliki pemahaman ini, mereka masih membutuhkan penjelasan dari orang tua dan orang yang dicintai. Orang tua jangan menyembunyikan kematian karena membuat mereka merasa bingung apa sebenarnya yang terjadi.

Masa kesedihan dialami semua orang ketika menghadapi kejadian kematian. Anak-anak pun merasakan hal yang sama seperti orang dewasa. Biarkan anak-anak merasa sedih, karena kehilangan orang yang dicintai. Orang tua harus mendampingi anak-anak mereka selama masa berkabung. Orang tua juga tidak menyembunyikan kesedihan orang tua. Pada masa yang menyedihkan, anak-anak perlu mengetahui bahwa orang tua mereka peduli terhadap mereka.

 

Ayah blogger membaca sumbernya dari website di bawah ini.

http://www.parenting.com

https://www.handinhandparenting.org

http://parenting-ed.org

Tips Bagi Ayah Sibuk Agar Bisa Menjaga Hubungan Hangat dengan Anak Anda

Anak-anak tidak jarang meminta ayahnya untuk membacakan cerita, dan memainkan permainan favoritnya. Lalu, ayah merasa begitu sibuknya sehingga enggan bermain dengan anak sendiri. Ketika pulang dari kantor pun, anak merengek-rengek agar ayah mau bermain dengannya. Tetapi, anda sudah kehabisan tenaga untuk anak anda, bahkan seuntai senyum pun tidak terlihat dari mulut sang ayah.

Anak juga membutuhkan ayahnya dan mereka tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Tetapi ketika tak tersisa waktu untuknya, anak mungkin akan menyadari kalau ayahnya begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Lama kelamaan bisa jadi, anak anda enggak bermain dengan anda.

Setiap ayah dalam peran sebagai orang tua membutuhkan hubungan yang hangat dengan anak. Wahai ayah, perhatikanlah apa yang diinginkan anak anda dan mungkin tips ini cukup manjur untuk menjaga hubungan yang hangat dengan anak anda.

It’is love

Jangan pernah merespons dengan cara yang negatif

“Tapi aku ingin bermain sama Ayah!” Anak memintanya dengan cara menjerit. Ayah sering menolaknya, tetapi terus menyanggah keinginan anak akan berperngaruh secara emosional kepada dirinya. Selalu menolak anak, akan membuat, hubungan ayah dan anak semakin buruk. Pikirkanlah apa yang dirasakan anak, sisakan sedikit waktu, misalnya bermain lego Bersama. Anak akan merasa senang, ketika ayah menyediakan waktu untuknya.

Bereaksi dengan empati

Anda mungkin tidak menyukai apa yang anak Anda minta. Ketika anak mengatakan ingin bermain bersama ayah. Maka, jelaskan dengan lembut dan penuh kasih sayang bahwa ayah belum bisa bermain dengannya. Anak akan mendengarnya, asalkan ingat wahai ayah berikan waktu untuknya pada lain hari.

Baca juga : Empati: Cara Mengajarkan Anak-anak untuk Menilai Orang Lain

Pastikan ayah memiliki waktu seimbang antara pekerjaan dan kesenangan

Ayah juga bisa kok menjadi kawan yang asyik berbelanja bersama anak, membuatkan makanan, bahkan menyikat giginya. Anak akan senang sekali ketika ayah menyempatkan waktu Bersamanya. Ayaolah ayah, jangan berkerja terus. Bagi waktu anda dengan anak-anak. Perhatikanlah, seiring waktu berjalan dan anak semakin dewasa, bisa saja anak yang tidak mempunya waktu untuk anda.

Membuat jadwal teratur bermain dengan anda

Kalau ayah bisa membagi waktu untuk pekerjaannya, tentu saja sangat mudah memberikan detik demi detik Bersama anak. Sediakan waktu dan buatlah jadwal bermain Bersama anak. Ayah bisa membicarakannya dengan anak dan menyepakati bersama, ada waktu bermain dengan anak dan adakalanya harus melakukan pekerjaan. Anak akan mengerti dengan kondisi ayahnya.

Yang terpenting, fokuskan pada cinta dan rasa sayang pada anak anda.

Betapa pun sibuknya anda, jangan lupa memberikan perhatian pada anak anda, berikan perhatian, bermain Bersama, dan tunjukkan kalau Ayah juga mencintainya. Tak ada salahnya juga, ayah mengatakan, “aku menyayangimu nak.” Anak mengetahui perasaan yang ditunjukkan ayahnya. Dia akan mengingatnya hingga dewasa kelak,seiring waktu yang terus berlalu.

Jadi ayah rasa empati kepada anak anda akan membuat mereka merasa senang. Apalagi memberikan waktu yang seimbang antara pekerjaan dan bermain dengan anak. Rasa cinta akan terus tumbuh Bersama mereka hingga anak menjadi dewasa. Anak akan mengingat kalau ada ayah yang selalu menjaga hubungan yang hangat bersama dirinya.

Hai Ayah dan Bunda, Inilah 10 Cara Mudah Menjadi Orang Tua Hebat

Ada banyak hal yang bisa orang tua lakukan tentang bagaimana membesarkan anak-anak yang bahagia dan sehat. Nah, berikut ini adalah saran yang sangat menarik yang mungkin bisa anda terapkan sebagai cara menjadi orang tua yang fantastic bagi anak-anak anda.

Jangan mencoba memperbaiki semuanya

Berikan anak kecil kesempatan untuk membuat solusinya sendiri. Bila anak mengalami kendala, seperti kesulitan memakai baju atau mengenakan sepatu, jangan segera menolongnya. Hal itu, bisa mengajarkan kemandirian anak.

Beritahu kalau disiplin bukanlah hukuman

Orang tua harus bisa menegakkan batas apa yang boleh dilakukan dan tidak oleh anak. Orang tua harus benar-benar mengajarkan anak-anak bagaimana berperilaku dan membantu mereka menjadi perhatian dan mengendalikan diri sendiri.

Biarkan Anak Bermain

Biarkan anak-anak memilih aktivitas sendiri, dan jangan khawatir dengan kondisi mereka. BIarkan mereka bermain dengan teman-temannya. Katakan bersenang-senanglah dengan temanmu. Dunia bermain mengajarkan anak untuk mengenal dunia selain dirinya dan membuat mereka mengetahui kondisi lingkungan mereka.

Bacalah buku bersama setiap hari

Anda sudah pernah membacakan buku Bersama anak. Belum? Ayolah ayah dan ibu mulailah membacakan buku sejak mereka baru lahir. Bayi senang mendengarkan suara orang tua mereka. Membacakan buku dapat menambah pengalaman ikatan kuat seumur hidup. Anak akan tahu ada orang tua hebat sebagai teman belajar mereka sepanjang waktu.

Baca juga : Wahai Ayah, Tolong Letakkan Smarphonemu

Jadwalkan waktu spesial setiap hari

Berilah waktu beraktivitas Bersama dan berkumpullah bersama anak, meski waktu sempit misalnya selama 30 atau 60 menit tanpa gangguan apapun. Ingat, jauhkan smartphone anda. Karena bukan langkah yang baik bermain Bersama anda sementara masih sibuk mengecek kondisi dunia melalui handphone anda. Berkumpul Bersama anak adalah cara menunjukkan cinta dari orang tua.

Ayolah ayah, jangan terlalu sibuk

Anak mungkin mengharapkan bisa memiliki waktu yang lebih banyak Bersama ayah. Tetapi sering kali ayah menjadi orang paling sibuk sedunia. Ayah, cobalah sempatkan mengantar anak ke sekolah dan ikuti aktivitas lainnya. Anak akan sangat senang kalau mereka tahu tidak hanya ibu yang peduli dengan aktivitas keseharian mereka.

Buatlah kenangan yang manis

Kenangan manis Bersama anak takkan terlupakan seumur hidup. Anak akan mengingat banyak kegiatan yang dilakukan bersama keluarga – seperti liburan Bersama keluarga atau yang paling sederha sering menemani anak sebelum tidur. Anak-anak akan ingat orang tua selalu hadir dalam hidup mereka.

Jadilah teladan

Anak-anak belajar banyak hal dari memperhatikan orang tua mereka. Orang tua adalah model dari perilaku dan sikap untuk anak anak. Memberi contoh dari setiap tindakan akan lebih baik dibandingkan terus berceramah apa yang harus mereka lakukan.

Cium dan peluklah pasangan Anda di depan anak-anak

Perkawinan Anda adalah satu-satunya contoh yang dimiliki anak Anda tentang hubungan intim penuh cinta. Jadi tugas orang tua menunjukkan bagaimana kasih sayang terus berjalan seiring waktu dari orang tua mereka.

Katakan “Aku mencintaimu” kapan pun ingin mengucapkannya

Bahkan jika itu melewati waktu seribu purnama. Kata-kata kasih sayang cukup ampuh membuat anak menyakini kalau mereka adalah buah cinta yang terus mereka perhatikan.

Nah Ayah Bunda, Cobalah praktikkan hal-hal tersebut dan jagalah kehidupan penuh kasih sayang Bersama keluarga anda.

sumber bacaan : http://www.parents.com

 

 

Wahai Ayah, Tolong Letakkan Handphonemu

Bukan hanya anak-anak yang terlalu menghabiskan waktu bermain smartphone. Orang tua justru terlalu banyak menggunakan waktunya dengan handphone layar sentuhnya dibandingkan memperhatikan anaknya, dari mengecek sosial media, e-mail, hingga membuka permainan “ngegame”. Ketahuilah, hal tersebut bisa mengganggu hubungan dengan anak.

Seorang peneliti yang fokus pada perkembangan anak bernama Dr. Jenny Radesky, awalnya memperhatikan betapa sering orang tua mengabaikan anak-anak mereka demi mengecek apa smartphone mereka.

Bahkan, Radesky melihat seorang ibu mendorong kereta sambil bermain handphone tanpa melihat “Bayi itu sedang tersenyum pada sang ibu dan seperti ingin digendong. Ibunya tidak mengangkat anaknya dari kereta bayi, tetapi hanya menonton video di YouTube.

Ketika Orang Tua Tergantung dengan Handphonenya

Radesky memutuskan untuk mempelajari tingkah laku orang tua kepada anaknya saat bermain handphone. Setelah pindah ke Boston Medical Center, dia dan dua peneliti lainnya menghabiskan satu musim panas untuk mengamati 55 kelompok orang tua dan anak-anak yang berbeda yang makan di restoran cepat saji. Banyak orang tua mengeluarkan smartphone mereka, melihatnya, dan terlalu sering menunduk tidak terlalu memperhatikan anak mereka.

Baca juga : Hai Ayah, Lakukan Hal ini untuk Kehidupan Anakmu

Apa yang dilakukan Radesky seperti pengamatan antropologis dan lengkap dengan catatan lapangan yang rinci. 40 dari 55 orang tua menggunakan smartphone selama makan, dan lebih asyik dengan berselancar di dunia maya daripada mengasuh anak-anak mereka.

Radesky mengatakan itu adalah kesalahan besar, karena interaksi tatap muka adalah cara utama yang dipelajari anak-anak. Mereka belajar Bahasa dan mereka belajar tentang emosi dari orang tua. Anak-anak belajar dengan memperhatikan orang tua bagaimana cara berbicara, juga bagaimana cara membaca ekspresi wajah orang lain. Kalau itu tidak terjadi, maka anak kehilangan cara belajar perkembangan hidup dari orang tua mereka.

Menariknya, anak terus mencari perhatian orang tua, meski sedang sibuk dengan dunia yang ada diluar sana. Dia mengingat satu kelompok dari tiga anak laki-laki dan ayah mereka: Ayah sedang dikuasai handphone cerdasnya, anak-anak itu menyanyikan sebuah lagu berulang-ulang demi diperhatikan sang ayah.

Ketika anak laki-laki bernyanyi lebih keras, sang ayah mendongak dan berteriak pada anaknya untuk berhenti. Anak laki-laki terus bernyanyi lebih keras dan membuat keributan, karena mengetahui ayahnya tidak memperhatikan dirinya.

Handphone Bisa Mengganggu Hubungan dengan Anak 

Psikolog Catherine Steiner-Adair menulis sebuah buku tentang pengasuhan anak, yang disebut The Big Disconnect: Melindungi Hubungan Anak dan Keluarga di Era Digital. Dia banyak menelaah perilaku orang tua, remaja dan anak-anak muda dalam praktik klinisnya di Massachusetts.

Ia berpendapat reaksi ayah terhadap ketiga anak laki-laki yang ingin diperhatikan, tetapi orang tua sibuk dengan handphonenya, bagian otak menuntun anda untuk mudah tersinggung saat menyuruh anak diam.

Dan ketika orang tua fokus pada dunia maya di depan anak-anak mereka akan berdampak pada kondisi emosional yang mendalam bagi anak tersebut. Pada penelitian yang dituliskan dibukunya, Steiner-Adair mewawancarai 1.000 anak-anak berusia antara 4 dan 18 tahun, menanyakan tentang penggunaan Smartphone orang tua mereka. Anak mengungkapkan rasa “sedih, marah dan kesepian.

Bahkan, seorang anak berusia 4 tahun menyebut smartphone ayahnya sebagai “telepon bodoh.” Ada anak yang dengan kesalnya melempar handphone orang tua mereka ke toilet, memasukkannya ke dalam oven atau menyembunyikannya. Ada satu gadis yang berkata, “Saya merasa hidup membosankan.” Karena ayah terlalu sibuk dengan handphoenya, meski sedang bermain Bersama dirinya.

Steiner-Adair mengatakan bahwa orang tua tidak mengtahui secara persis berapa momen  dalam hidup yang bisa mempengaruhi anak dalam jangka panjang. Tapi berdasarkan cerita yang dia dengar, orang tua disarankan untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan handphone saat mereka bersama anak-anak mereka.

Sumber: http://www.npr.org

Hai Ayah, Lakukan Hal ini untuk Kehidupan Anakmu

Aku tidak akan malu menyatakan bahwa dari semua laki-laki yang pernah kukenal, tidak Seorang pun yang sebanding dengan Ayah, cinta ayah melebihi segalanya

Seorang anak laki-laki ingin tahu bagaimana caranya menjalani hidup, mengetahui minat, pekerjaan sekolah, hobi dan cita-citanya untuk menyenangkan ayahnya. Sebagai ayah yang baik, anaknya  harus dibimbing untuk bertindak benar dan membantunya menjalani kehidupan sosial Bersama orang lain.

Ayah tidak bisa berharap anak bisa peduli kepada sesama, mengerti tentang kepedulian sosial, kalau ayah tak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Ayah tak bisa berharap anak akan ramah kepada orang lain, respek kepada sesama, dan suka membantu orang lain,kalau hal itu tak pernah diajarkan di rumah. Ayah harus berperan untuk membuat anak mengerti.

Tunjukkan pada anak bahwa semua yang dia lakukan penting dan ayah sangat senang melihat anak berbuat baik, tentu saja ayah harus memberi contoh tentang nilai kebaikan.

Baca juga : 6 Cara dan Tips Memperkuat Hubungan Ayah dan Anak

Apakah Anak Mengetahui Ayah Sangat Peduli Padanya?

Lagi-lagi ini soal bagaimana ayah mau mengajari anak dan mendampinginya untuk belajar tentang kehidupan Bersama orang lain. Ayah mempersiapkan anaknya memasuki dunia yang dia butuhkan, mengajarinya tidak sekedar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang.

Seorang anak perlu tahu bahwa anda senang dengan dia, bukan untuk apa yang dia lakukan atau tidak lakukan, tetapi karena dari kemampuan diri anak.

Ingatlah ayah, Kamu sangat berperan untuk membuat anakmu mengenal kehidupan bermasyarakat, hidup Bersama, dan mengenal budaya dari tempat tinggalnya. Seorang anak laki-laki mungkin hanya membutuhkan kata yang menggembirakan pada saat yang tepat. Sarapan Bersama dengan ayah mungkin menjai waktu yang begitu membuatnya bahagia.

Anak akan menjalani hidup Bersama Ayah, mengalami ritus peralihan ke masa remaja, menjadi dewasa atas peran dari perhatian penuh sang ayah. Kunci utama kedekatan ayah dan anak adalah komunikasi yang tak terputus.

Sehingga, anak percaya apa yang dilakukannnya adalah benar dan Ayah senang terhadap yang dilakukan seorang anak. Ayah selayaknya menjadi penasihat kehidupan dan bukti cinta tak bersyarat dalam menjalani hidup. Percayalah Ayah, anda bisa melakukannya.

6 Tips Memperkuat Kasih Sayang Ayah dan Anak

Ayah dan anak memiliki hubungan yang istimewa. Ayah dan anak sering begitu akrab dan Sering pula saling bertentangan. Ayah suka mengatur anak dan anak melawan kehendak orang tua. Bagaimana cara menjaga hubungan agar tetap akur, coba ikuti tips menciptakan dan membangun hubungan ayah-anak berikut ini.

Anak Dipengaruhi Ayah mereka

Anak belajar menjadi seorang laki-laki terutama memperhatikan sang ayah. Bagaimana ayah menasehati, marah, dan berbicara akan menjadi contoh bagi anak. Ayah mempengaruhi perkembangan pribadi anak.

Anak akan belajar lebih dalam lagi ketika melihat ayahnya berinteraksi dengan ibunya, dia akan belajar tentang rasa hormat, tentang bagaimana pria dan wanita berinteraksi dan bagaimana pria harus menghadapi konflik dan perbedaan. Anak akan belajar dari ayah!

pixabay.com

Bermain Bersama Anak

Jangan ragu bermain Bersama anak anak. Bermainlah dari kecil Bersama anak anda, ketika beranjak remaja dan dewasa jangan membuat jarak, kelak mereka akan terus merasa dekat. Seperti cinta ibu, anak akan mengerti betapa perhatiannya ayah terhadap dirinya.

Cinta dan perhatian adalah rasa yang akan diterima anak. Ajak anak bermain ke banyak tempat, seperti ke pantai, gunung, atau arena bermain di mall sekalipun. Mengajak bermain Bersama, anak akan merasa aman dan mengenal tentang perhatian ayah.

Ikutilah Kegiatan Anak dari Sekolah

Ada banyak kegiatan sekolah seolah hanya melibatkan ibu. Padahal, tak ada salahnya, ayah juga terlibat dalam kegiatan mereka. Misalnya, ikut kegiatan liburan sekolah, datang ke acara pentas seni anak, dan boleh juga tuh ikut nimbrung di sekolah menunggu anak pulang sekolah.

Anak akan merasa memiliki waktu yang lebih lama Bersama ayah. Ayah tidak hanya dikenal orang yang serba sibuk. Anak akan mengenal ayah sebagai teman di rumah, sekolah dan di mana saja.

Berbicaralah Ayah Bersama Anakmu

Sempatkan berbicara Bersama anak, ayah jangan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Anak tentu butuh teman bicara dan tidak harus selalu dari ibu. Ayah juga harus menjadi tempat bercerita, berbagi pengalaman, dan bisa juga menjadi tempat curahan hati anak laki-laki anak.

Agar tidak canggung, ayah harus memulai menjadi teman bercerita Bersama anak sejak kecil, mengikuti masa remaja mereka, dan dewasa kelak, anak akan tetap mengingat ayah sebagai sosok yang perhatian.

Jangan Takut Berbicara Tentang Seks Bersama Anak

Anak tetap butuh belajar tentang seksualitas. Seiring pertumbuhan mereka, anak akan mulai mengenal dunia seks, dari belajar area seks tubuh hingga mengenal perilaku seks terhadap lawan jenis. Dari mata turun ke hati, dan mulai coba-coba sentuh-menyentuh tubuh lawan jenis.

Luangkan waktu untuk mengajari anak-anak Anda tentang seks dan hubungan. Anak laki-laki akan mengembangkan sikap yang lebih baik tentang seks dan cara berhadapan dengan perempuan nantinya. Anak akan belajar banyak tentang seks dari bebagai media, dari teman, dan entah dari mana saja. Ayah bisa berperan bagaimana tentang belajar seks yang aman kepada anak.

Belajar Tentang Nilai Positif

Anak tidak akan senang dinilai negatif oleh orang tuanya. Anak bodoh, anak durhaka, dan berbagai caci maki akan mempengaruhi keperibadian anak. Sebagai ayah berlaku positif kepada anak dan sering puji prestasi mereka.

Kalau anak berbuat salah, beri nasihat dan bicarakan dengan baik. Ayah harus menciptakan cara-cara positif dalam kehidupan anak sehari-hari

pixabay.com

Mari Ayah, perkuat hubunganmu dengan anak laki-lakumu. Ayah bisa menghabiskan waktu bersama dan berbicara tentang pelajaran hidup, menjadi pendengar yang baik, tetap menjalin hubungan yang baik Bersama anak. Mudah-mudahan anak akan membalas kasih ayah suatu hari kelak.