anak korban terorisme
Keluarga

Berkaca Dari Anak Korban Terorisme

Boomm, ledakan begitu dahsyat di depan Mapolrestabes Surabaya dan seorang anak korban Terorisme terhuyung-huyung. Seorang polisi dengan sigap menggendong anak tersebut menjauhi titik ledak yang telah membunuh kedua orang tuanya. Dialah putri dari pelaku bom bunuh diri yang nyawanya selamat karena terpental dari boncengan sepeda motor orang tuanya.

Bagi saya seorang Ayah, kok rasanya sedih betul melihat seorang anak korban terorisme seperti itu. Usia masih begitu muda dan harus mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Tapi apa daya, jalan lain ditempuh orang tuanya dan meninggalkannya seorang diri di dunia ini.

Sebagai penonton aksi kekejian bom itu, saya masih ingat betul kejadian tersebut. Dipikir-pikir, bagaimana dengan si anak yang mengalami langsung kejadian yang buruk tersebut dan dampak trauma yang ditimbulkan? Iba rasanya. Saya yakin anak tersebut belum mengerti jalan yang dipilih kedua orang tuanya. Bagi saya posisi si anak adalah korban dari kejahatan luar biasa dari terorisme.

Baca juga : Aku Mau Bikin Mobil-Mobilan Lagi Yah : Yuk Dukung Anak Kreatif

Melindungi Anak Korban Terorisme

Banyak orang mungkin terperangah ketika anak-anak menjadi bagian kejadian teror di gereja, rumah susun di Sidoarjo, dan Mapolrestabes Surabaya. Bahkan di depan gereja dua anak perempuan harus bertaruh nyawa berjalan sama ibunya dan mengakibatkan meninggalnya orang lain. Anak lainnya mengaku sering dicekoki video gerakan teroris dan dilarang sekolah. Orang tua menghujami mereka dengan pemahaman yang belum mereka mengerti.

Baik korban yang meninggal turut dalam tindakan bunuh diri dan meninggal terkena bom sama-sama korban. Mereka harus dilindungi dari kejadian luar biasa kejinya yang telah menghilangkan nyawa dan melukai puluhan orang lainnya.

Melihat kasus tersebut, anak-anak tentu harus dilindungi dan jangan sampai menjadi korban terorisme. Tahukah Ayah dan Bunda, kejadian terorisme tidak lahir begitu saja. Ada latar yang mempengaruhi tindakan mereka. Akar-akar pemahaman keagamaan yang salah dan pengaruh kelompok sangat erat mempengaruhi tindakan mereka.

Namun, ada peran-peran khalayak ramai pula yang bisa menaburkan benih-benih kebencian yang mengalir setiap hari dalam keseharian kita. Seperti komentar para orang tua yang saling sindiri dan caci, penolakan atas identitas yang berbeda, menolak suku tertentu, hingga memusuhi agama berbeda. Kejadian tersebut bukan rahasia lagi terus meninggalkan jejak di berbagai media sosial.

Tontotan yang menyindir dan membenci orang lain hadir hampir setiap hari di televisi. Sadar atau tidak, benih kebencian sudah menjadi makanan keseharian dari kita para orang tua. Anak-anak pun tentu terpapar penyakit kebencian yang sama.

Baca juga : Ringgo Agus Rahman, Kelakuan Ayah Lucu Bjorka Dieter Morscheck di Instagram

Melibatkan Anak Dalam Terorisme adalah Kejahatan Luar Biasa

Wahai Ayah dan Bunda tidak cukup hanya bilang khawatir dan mengutuki kasus terorisme tersebut. tetapi sebagian besar dari kita masih turut andil menabur benih kebencian melalui dunia maya atau dunia nyata.

Anak-anak yang tidak faham kelakukan orang tuanya bisa menjadi korban. Ketika orang tua terus menabur rasa benci setiap hari, anak bisa menuruti perilaku kita.

Pelajaran penting dari anak korban terorisme, mereka harus dilindungi. Karena melibatkan anak-anak dalam kasus teror adalah kejahatan luar biasanya yang tak bisa dianggap enteng. Jaga sikap orang tua dan bangun dunia yang menyenangkan demi kebahagiaan anak-anak kelak.

You may also like...

2 Comments

  1. Kebencian itu merupakan sifat alami yang ada pada diri manusia. Sebaiknya begitu timbul kebencian dalam hati, kita perangi hal itu supaya tidak tumbuh menjadi berlebihan atau menjadi ekstrim.

  2. admin says:

    mananam benih kebaikan pada anak, agar terhindar dari kebencian ketika besar kelak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *