Mainan anak laki-laki
Keluarga

Kenapa Mainan Anak Laki-Laki dan Perempuan Dibedakan?

Sebagai Ayah, saya tidak membedakan permainan anak laki-laki dan perempuan. Anak saya seorang laki-laki memiliki permainan yang beragam, dari sepeda, mobil-mobilan, alat masak-masakan, boneka, puzzle, dan lain-lain.

Kalau bagi saya anak laki-laki tidak masalah bermain masak-masakan dan boneka. Ternyata tidak begitu dari kakek/nenek, tante, dan orang-orang di sekitar tempat tinggal saya. Mereka merasa heran ketika tahu mainan anak laki-laki saya. Mereka bertanya kok dibiarin anak laki-laki punya mainan anak perempuan.

Menurut saya, Perbedaan antara mainan anak laki-laki dan perempuan terjadi justru karena orang tua. Sejujurnya saya sering kali jengkel, ketika orang lain melarang anak saya bermain boneka atau masak-masakan. Wong, anak saya senang kok dilarang-larang.

Lalu kenapa orang tua cenderung membedakan permainan anak laki-laki dan perempuan?

Baca juga : (Bukan) Ilmu Parenting : Tips Cerdas Memulai Pagi dan Mengantar anak ke sekolah

Orang tua Memperngaruhi Pilihan Mainan Anak Laki-Laki dan Perempuan

Orang tua ternyata memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membedakan kalau mainan anak laki-laki harus berbeda dengan anak perempuan. Judi Mesman dan Marleen Groeneveld di Universitas Leiden di Belanda melakukan penelitian tentang bagaimana orang tua memengaruhi sosialisasi kepada anak-anak perhadap peran gender mereka.

Ketika praktik pola pengasuhan kepada anak-anak dibawah control orang tua, perlakuan terhadap anak laki-laki dan perempuan dilakukan berbeda. Orang tua membentuk perbedaan minat, keterampilan, dan perilaku terhadap anak-anak dalam praktik pengasuhan secara gender.

Saya menjadi mulai mengerti, kenapa anak laki-laki saya dianggap aneh ketika bermain boneka. Hal itu terjadi, karena orang tua memang memilih mainan secara berbeda. Kalau boleh jujur, orang tua juga melakukannya pada hal lain, memilih buku bacaan, tas, warna baju juga secara berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan.

Anak laki-laki lebih diarahkan bermain mobil-mobilan dan kereta api. Sementara boneka dan bermain masak-masakan untuk anak perempuan. Tidak hanya pilihan jenis mainan saja, cara bermain antara laki-laki dan perempuan pun diajarkan dengan cara berbeda.

Misalnya anak laki-laki cenderung bermain lebih kasar, sedangkan perempuan identik dengan sikap kelembutan. Maka, akan aneh ketika anak laki-laki bermain masak-masakan dan menyiapkan makanan yang dinilai lebih ke sikap perempuan.

Maesman dan Groeneveld juga menjelaskan hasil setudi mereka bahwa baik ibu dan ayah lebih cenderung melabeli  tentang kondisi kesedihan kepada anak perempuan dan anak-anak yang marah untuk laki-laki. Dari cara bersikap pun, orang tua mengasuh anak dengan pola yang tidak netral gender.

Pilihan Mainan Anak Bukan Persoalan Biologis, Tetapi Stereotip Gender Orang tua

Banyak penelitian yang juga mengakui faktor biologi mempengaruhi kondisi anak laki-laki bermain lebih aktif dan menggunakan kekuatan fisik dibandingkan dengan anak perempuan. Namun, pemilihan terhadap mainan anak terjadi karena orang tua melakukan pembedaan secara gender dari masa awal kehidupan anak-anak.

Sejak anak mereka baru dilahirkan dan belum  bisa merangkak pun, mainannya sudah berbeda. “Kok dikasih bola sih, kan dia perempuan,” kata tante anak saya suatu kali.”

Disadari atau tidak, sumber peniruan bertingkah laku secara sosial dipengaruhi dari interaksi dengan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak-anak melihat model sosial dari perbedaan perilaku secara gender dari orang-orang sekeliling mereka.

Misalnya, anak perempuan akan meniru ibunya ketika sedang bersih-bersih rumah. Sehingga, menilai kalau pekerjaan domestik hanya untuk perempuan. Sementara laki-laki cenderung diajarkan dalam kegiatan fisik, seperti memperbaiki pintu rumah yang rusak dan mencuci kendaraan.

Baca juga : Aku ingin Belajar bersama Ayah dan Ibu, Bukan Sama Nenek Apalagi Pembantu

Lalu Bagaimana Pengaruh Perbedaan Secara Gender Tersebut Baik Bagi Anak-Anak?

Orang tua berpikir bahwa pola pengasuhan secara gender akan bermanfaat bagi kehidupan. Ketika dewasa kelak dan bermanfaat bagi lingkungan sosial mereka. Padahal stereotip pemilahan dari mainan laki-laki dan perempuan dan cara berperilaku yang berbeda justru membatasi kemampuan anak-anak pada masa depannya nanti.

Anak-anak menjadi memiliki kecenderungan pemilihan pekerjaan yang dianggap sesuai dengan citra diri sebagai laki-laki atau perempuan. Ketika seorang laki-laki bisa menjadi ahli tata rias dinilai seperti banci dan perempuan menjadi pembalap dianggap tidak lazim. Kok kayak cowok sih?

Syukurnya, ada banyak orang membuktikan mereka bisa sukses dengan pekerjaan di luar batas stereotip gender. Lihat saja ketika banyak chef laki-laki menunjukkan keahlian memasak. Sudah tidak asing melihat seorang perempuan menjadi pemandu acara olah raga sepak bola.

Jadi wahai orang tua, sudah deh anak jangan terlalu dibatasi dalam memilih mainan laki-laki atau perempuan. Biarkan mereka bermain dan mengekspolarasi yang mereka gemari sejak kecil tanpa sekat-sekat perbedaan jenis kelamin.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *