Hai Ayah dan Bunda, Inilah 10 Cara Mudah Menjadi Orang Tua Hebat

Ada banyak hal yang bisa orang tua lakukan tentang bagaimana membesarkan anak-anak yang bahagia dan sehat. Nah, berikut ini adalah saran yang sangat menarik yang mungkin bisa anda terapkan sebagai cara menjadi orang tua yang fantastic bagi anak-anak anda.

Jangan mencoba memperbaiki semuanya

Berikan anak kecil kesempatan untuk membuat solusinya sendiri. Bila anak mengalami kendala, seperti kesulitan memakai baju atau mengenakan sepatu, jangan segera menolongnya. Hal itu, bisa mengajarkan kemandirian anak.

Beritahu kalau disiplin bukanlah hukuman

Orang tua harus bisa menegakkan batas apa yang boleh dilakukan dan tidak oleh anak. Orang tua harus benar-benar mengajarkan anak-anak bagaimana berperilaku dan membantu mereka menjadi perhatian dan mengendalikan diri sendiri.

Biarkan Anak Bermain

Biarkan anak-anak memilih aktivitas sendiri, dan jangan khawatir dengan kondisi mereka. BIarkan mereka bermain dengan teman-temannya. Katakan bersenang-senanglah dengan temanmu. Dunia bermain mengajarkan anak untuk mengenal dunia selain dirinya dan membuat mereka mengetahui kondisi lingkungan mereka.

Bacalah buku bersama setiap hari

Anda sudah pernah membacakan buku Bersama anak. Belum? Ayolah ayah dan ibu mulailah membacakan buku sejak mereka baru lahir. Bayi senang mendengarkan suara orang tua mereka. Membacakan buku dapat menambah pengalaman ikatan kuat seumur hidup. Anak akan tahu ada orang tua hebat sebagai teman belajar mereka sepanjang waktu.

Baca juga : Wahai Ayah, Tolong Letakkan Smarphonemu

Jadwalkan waktu spesial setiap hari

Berilah waktu beraktivitas Bersama dan berkumpullah bersama anak, meski waktu sempit misalnya selama 30 atau 60 menit tanpa gangguan apapun. Ingat, jauhkan smartphone anda. Karena bukan langkah yang baik bermain Bersama anda sementara masih sibuk mengecek kondisi dunia melalui handphone anda. Berkumpul Bersama anak adalah cara menunjukkan cinta dari orang tua.

Ayolah ayah, jangan terlalu sibuk

Anak mungkin mengharapkan bisa memiliki waktu yang lebih banyak Bersama ayah. Tetapi sering kali ayah menjadi orang paling sibuk sedunia. Ayah, cobalah sempatkan mengantar anak ke sekolah dan ikuti aktivitas lainnya. Anak akan sangat senang kalau mereka tahu tidak hanya ibu yang peduli dengan aktivitas keseharian mereka.

Buatlah kenangan yang manis

Kenangan manis Bersama anak takkan terlupakan seumur hidup. Anak akan mengingat banyak kegiatan yang dilakukan bersama keluarga – seperti liburan Bersama keluarga atau yang paling sederha sering menemani anak sebelum tidur. Anak-anak akan ingat orang tua selalu hadir dalam hidup mereka.

Jadilah teladan

Anak-anak belajar banyak hal dari memperhatikan orang tua mereka. Orang tua adalah model dari perilaku dan sikap untuk anak anak. Memberi contoh dari setiap tindakan akan lebih baik dibandingkan terus berceramah apa yang harus mereka lakukan.

Cium dan peluklah pasangan Anda di depan anak-anak

Perkawinan Anda adalah satu-satunya contoh yang dimiliki anak Anda tentang hubungan intim penuh cinta. Jadi tugas orang tua menunjukkan bagaimana kasih sayang terus berjalan seiring waktu dari orang tua mereka.

Katakan “Aku mencintaimu” kapan pun ingin mengucapkannya

Bahkan jika itu melewati waktu seribu purnama. Kata-kata kasih sayang cukup ampuh membuat anak menyakini kalau mereka adalah buah cinta yang terus mereka perhatikan.

Nah Ayah Bunda, Cobalah praktikkan hal-hal tersebut dan jagalah kehidupan penuh kasih sayang Bersama keluarga anda.

sumber bacaan : http://www.parents.com

 

 

Empati: Cara Mengajarkan Anak-anak untuk Menilai Orang Lain

Empati adalah salah satu sifat yang hampir semua orang inginkan, tetapi sedikit yang mengetahui bagaimana merasakannya. Oleh karena itu, orang dewasa perlu untuk mengajarkan generasi penerus untuk memiliki rasa empati terhadap orang di sekitar mereka.

Apa itu Empati?

Banyak orang kebingungan perbedaan simpati dan empati, tapi keduanya adalah dua nilai yang berbeda. Empati bukan hanya kemampuan untuk memahami perasaan seseorang; Penjahat sering memanfaatkan orang untuk memahami perasaan mereka dan kemudian mencuri kepercayaan mereka. Empati lebih dari itu. Tidak hanya kemampuan untuk mengenali bagaimana perasaan seseorang, tetapi juga menghargai dan menghormati perasaan orang lain. Seseorang memperlakukan orang lain dengan kebaikan hati, bermartabat, dan pengertian.

Anak-anak Perlu Melihat Orang Dewasa Menunjukkan Rasa Empati

Sebagian anak dilahirkan dengan hati yang baik, sedangkan sebagian besar anak-anak perlu melihat empati yang dicontohkan oleh orang dewasa di sekitar mereka. Dari mana semua berawal? Ya tentu saja dimulai dari cara orang tua berhubungan dengan anak-anak mereka. Orangtua yang menunjukkan perhatian yang kuat kepaa anak-anak mereka dan menanggapi emosi dengan cara yang positif. Rasa kepedulian tersebut mengajarkan keterampilan empati.

Memenuhi Kebutuhan Emosional

Bila anak kebutuhan emosional anak terpenuhi, ada dua hal yang terjadi; Mereka belajar bagaimana perhatian terhadap emosional orang lain dan juga menerima rasa yang sama, artinya mereka cukup merasakan kepedulian orang lain.

Baca Juga : Hal Terpenting yang Harus Ayah Lakukan untuk Kehidupan Anaknya

Bicara Kepada Anak Tentang Kebutuhan Emosional

Banyak orang dewasa merasa sulit untuk membicarakan perasaan emosional atau apapun yang berhubungan dengan emosi. Akibatnya, mereka menghabiskan hidup mereka membahas tentang emosi tanpa ujung. Orang dewasa terkadang takut pada emosi mereka sendiri, karena tidak pernah belajar bagaimana menghadapi perasaan emosional.

Orang tua sebaiknya berbicara kepada anak tentang emosi dan bagaimana orang lain mengalaminya. Beri anak pengertian tentang ragam emosi, misalnya, cemburu, marah, dan cinta. Anak harus mengerti tentang perbedaan rasa tersebut. Bicaralah kepada anak tentang bagaimana menangani emosi secara positif dan menghadapi situasi di mana orang lain sedang mengalami emosi. Ajarkan mereka tentang menghormati emosi orang lain.

Carilah Situasi Nyata untuk Mempraktikkan Empati

Carilah situasi yang mempengaruhi orang lain dan bicarakan dengan anak-anak Anda bagaimana perasaan mereka. Misalnya, bagaimana ketika melihat orang yang meminta-minta  di jalan. Ceritakan tentang perbedaan nasib yang mereka alami, hingga mereka menunjukkan rasa kepedulian.

Kembangkan Perasaan Batin Kepedulian Anak

Mengajar anak-anak tentang perbedaan antara benar dan salah dari usia muda memberi mereka ukuran moral yang kuat untuk mengarahkan mereka membuat pilihan yang baik. Bantulah mereka untuk melihat bagaimana pilihan dan perilaku kita mempengaruhi orang lain. Berbicaralah kepada mereka tentang bagaimana kesalahan merugikan orang lain dan bantulah mereka untuk melihat dampak buruk yang ditimbulkan. Sebaiknya Anda berbicara dengan mereka tentang hal-hal kecil seperti memanggil saudara kandung nama yang tidak baik dan menyakiti perasaannya. Ketika membangun pondasi moral yang kuat, mulailah yang kecil dan mulailah dengan dasar-dasarnya. Terus beri anak pengertian tentang kepedulian terhadap orang lain

Cara membesarkan anak-anak Anda dengan memahami dan melatih empati, Anda memberi mereka rasa kepedulian yang tinggi. Mereka akan menjalani kehidupan yang lebih baik dan menikmati hubungan yang yang dekat dengan orang lain. Mengajarkan anak-anak Anda tentang empati adalah investasi berharga untuk masa depan mereka sendiri dan bagi dunia yang akan mereka tinggali.

 

 

Wahai Ayah, Tolong Letakkan Handphonemu

Bukan hanya anak-anak yang terlalu menghabiskan waktu bermain smartphone. Orang tua justru terlalu banyak menggunakan waktunya dengan handphone layar sentuhnya dibandingkan memperhatikan anaknya, dari mengecek sosial media, e-mail, hingga membuka permainan “ngegame”. Ketahuilah, hal tersebut bisa mengganggu hubungan dengan anak.

Seorang peneliti yang fokus pada perkembangan anak bernama Dr. Jenny Radesky, awalnya memperhatikan betapa sering orang tua mengabaikan anak-anak mereka demi mengecek apa smartphone mereka.

Bahkan, Radesky melihat seorang ibu mendorong kereta sambil bermain handphone tanpa melihat “Bayi itu sedang tersenyum pada sang ibu dan seperti ingin digendong. Ibunya tidak mengangkat anaknya dari kereta bayi, tetapi hanya menonton video di YouTube.

Ketika Orang Tua Tergantung dengan Handphonenya

Radesky memutuskan untuk mempelajari tingkah laku orang tua kepada anaknya saat bermain handphone. Setelah pindah ke Boston Medical Center, dia dan dua peneliti lainnya menghabiskan satu musim panas untuk mengamati 55 kelompok orang tua dan anak-anak yang berbeda yang makan di restoran cepat saji. Banyak orang tua mengeluarkan smartphone mereka, melihatnya, dan terlalu sering menunduk tidak terlalu memperhatikan anak mereka.

Baca juga : Hai Ayah, Lakukan Hal ini untuk Kehidupan Anakmu

Apa yang dilakukan Radesky seperti pengamatan antropologis dan lengkap dengan catatan lapangan yang rinci. 40 dari 55 orang tua menggunakan smartphone selama makan, dan lebih asyik dengan berselancar di dunia maya daripada mengasuh anak-anak mereka.

Radesky mengatakan itu adalah kesalahan besar, karena interaksi tatap muka adalah cara utama yang dipelajari anak-anak. Mereka belajar Bahasa dan mereka belajar tentang emosi dari orang tua. Anak-anak belajar dengan memperhatikan orang tua bagaimana cara berbicara, juga bagaimana cara membaca ekspresi wajah orang lain. Kalau itu tidak terjadi, maka anak kehilangan cara belajar perkembangan hidup dari orang tua mereka.

Menariknya, anak terus mencari perhatian orang tua, meski sedang sibuk dengan dunia yang ada diluar sana. Dia mengingat satu kelompok dari tiga anak laki-laki dan ayah mereka: Ayah sedang dikuasai handphone cerdasnya, anak-anak itu menyanyikan sebuah lagu berulang-ulang demi diperhatikan sang ayah.

Ketika anak laki-laki bernyanyi lebih keras, sang ayah mendongak dan berteriak pada anaknya untuk berhenti. Anak laki-laki terus bernyanyi lebih keras dan membuat keributan, karena mengetahui ayahnya tidak memperhatikan dirinya.

Handphone Bisa Mengganggu Hubungan dengan Anak 

Psikolog Catherine Steiner-Adair menulis sebuah buku tentang pengasuhan anak, yang disebut The Big Disconnect: Melindungi Hubungan Anak dan Keluarga di Era Digital. Dia banyak menelaah perilaku orang tua, remaja dan anak-anak muda dalam praktik klinisnya di Massachusetts.

Ia berpendapat reaksi ayah terhadap ketiga anak laki-laki yang ingin diperhatikan, tetapi orang tua sibuk dengan handphonenya, bagian otak menuntun anda untuk mudah tersinggung saat menyuruh anak diam.

Dan ketika orang tua fokus pada dunia maya di depan anak-anak mereka akan berdampak pada kondisi emosional yang mendalam bagi anak tersebut. Pada penelitian yang dituliskan dibukunya, Steiner-Adair mewawancarai 1.000 anak-anak berusia antara 4 dan 18 tahun, menanyakan tentang penggunaan Smartphone orang tua mereka. Anak mengungkapkan rasa “sedih, marah dan kesepian.

Bahkan, seorang anak berusia 4 tahun menyebut smartphone ayahnya sebagai “telepon bodoh.” Ada anak yang dengan kesalnya melempar handphone orang tua mereka ke toilet, memasukkannya ke dalam oven atau menyembunyikannya. Ada satu gadis yang berkata, “Saya merasa hidup membosankan.” Karena ayah terlalu sibuk dengan handphoenya, meski sedang bermain Bersama dirinya.

Steiner-Adair mengatakan bahwa orang tua tidak mengtahui secara persis berapa momen  dalam hidup yang bisa mempengaruhi anak dalam jangka panjang. Tapi berdasarkan cerita yang dia dengar, orang tua disarankan untuk berpikir dua kali sebelum menggunakan handphone saat mereka bersama anak-anak mereka.

Sumber: http://www.npr.org

Hai Ayah, Lakukan Hal ini untuk Kehidupan Anakmu

Aku tidak akan malu menyatakan bahwa dari semua laki-laki yang pernah kukenal, tidak Seorang pun yang sebanding dengan Ayah, cinta ayah melebihi segalanya

Seorang anak laki-laki ingin tahu bagaimana caranya menjalani hidup, mengetahui minat, pekerjaan sekolah, hobi dan cita-citanya untuk menyenangkan ayahnya. Sebagai ayah yang baik, anaknya  harus dibimbing untuk bertindak benar dan membantunya menjalani kehidupan sosial Bersama orang lain.

Ayah tidak bisa berharap anak bisa peduli kepada sesama, mengerti tentang kepedulian sosial, kalau ayah tak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Ayah tak bisa berharap anak akan ramah kepada orang lain, respek kepada sesama, dan suka membantu orang lain,kalau hal itu tak pernah diajarkan di rumah. Ayah harus berperan untuk membuat anak mengerti.

Tunjukkan pada anak bahwa semua yang dia lakukan penting dan ayah sangat senang melihat anak berbuat baik, tentu saja ayah harus memberi contoh tentang nilai kebaikan.

Baca juga : 6 Cara dan Tips Memperkuat Hubungan Ayah dan Anak

Apakah Anak Mengetahui Ayah Sangat Peduli Padanya?

Lagi-lagi ini soal bagaimana ayah mau mengajari anak dan mendampinginya untuk belajar tentang kehidupan Bersama orang lain. Ayah mempersiapkan anaknya memasuki dunia yang dia butuhkan, mengajarinya tidak sekedar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang.

Seorang anak perlu tahu bahwa anda senang dengan dia, bukan untuk apa yang dia lakukan atau tidak lakukan, tetapi karena dari kemampuan diri anak.

Ingatlah ayah, Kamu sangat berperan untuk membuat anakmu mengenal kehidupan bermasyarakat, hidup Bersama, dan mengenal budaya dari tempat tinggalnya. Seorang anak laki-laki mungkin hanya membutuhkan kata yang menggembirakan pada saat yang tepat. Sarapan Bersama dengan ayah mungkin menjai waktu yang begitu membuatnya bahagia.

Anak akan menjalani hidup Bersama Ayah, mengalami ritus peralihan ke masa remaja, menjadi dewasa atas peran dari perhatian penuh sang ayah. Kunci utama kedekatan ayah dan anak adalah komunikasi yang tak terputus.

Sehingga, anak percaya apa yang dilakukannnya adalah benar dan Ayah senang terhadap yang dilakukan seorang anak. Ayah selayaknya menjadi penasihat kehidupan dan bukti cinta tak bersyarat dalam menjalani hidup. Percayalah Ayah, anda bisa melakukannya.

6 Tips Memperkuat Kasih Sayang Ayah dan Anak

Ayah dan anak memiliki hubungan yang istimewa. Ayah dan anak sering begitu akrab dan Sering pula saling bertentangan. Ayah suka mengatur anak dan anak melawan kehendak orang tua. Bagaimana cara menjaga hubungan agar tetap akur, coba ikuti tips menciptakan dan membangun hubungan ayah-anak berikut ini.

Anak Dipengaruhi Ayah mereka

Anak belajar menjadi seorang laki-laki terutama memperhatikan sang ayah. Bagaimana ayah menasehati, marah, dan berbicara akan menjadi contoh bagi anak. Ayah mempengaruhi perkembangan pribadi anak.

Anak akan belajar lebih dalam lagi ketika melihat ayahnya berinteraksi dengan ibunya, dia akan belajar tentang rasa hormat, tentang bagaimana pria dan wanita berinteraksi dan bagaimana pria harus menghadapi konflik dan perbedaan. Anak akan belajar dari ayah!

pixabay.com

Bermain Bersama Anak

Jangan ragu bermain Bersama anak anak. Bermainlah dari kecil Bersama anak anda, ketika beranjak remaja dan dewasa jangan membuat jarak, kelak mereka akan terus merasa dekat. Seperti cinta ibu, anak akan mengerti betapa perhatiannya ayah terhadap dirinya.

Cinta dan perhatian adalah rasa yang akan diterima anak. Ajak anak bermain ke banyak tempat, seperti ke pantai, gunung, atau arena bermain di mall sekalipun. Mengajak bermain Bersama, anak akan merasa aman dan mengenal tentang perhatian ayah.

Ikutilah Kegiatan Anak dari Sekolah

Ada banyak kegiatan sekolah seolah hanya melibatkan ibu. Padahal, tak ada salahnya, ayah juga terlibat dalam kegiatan mereka. Misalnya, ikut kegiatan liburan sekolah, datang ke acara pentas seni anak, dan boleh juga tuh ikut nimbrung di sekolah menunggu anak pulang sekolah.

Anak akan merasa memiliki waktu yang lebih lama Bersama ayah. Ayah tidak hanya dikenal orang yang serba sibuk. Anak akan mengenal ayah sebagai teman di rumah, sekolah dan di mana saja.

Berbicaralah Ayah Bersama Anakmu

Sempatkan berbicara Bersama anak, ayah jangan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Anak tentu butuh teman bicara dan tidak harus selalu dari ibu. Ayah juga harus menjadi tempat bercerita, berbagi pengalaman, dan bisa juga menjadi tempat curahan hati anak laki-laki anak.

Agar tidak canggung, ayah harus memulai menjadi teman bercerita Bersama anak sejak kecil, mengikuti masa remaja mereka, dan dewasa kelak, anak akan tetap mengingat ayah sebagai sosok yang perhatian.

Jangan Takut Berbicara Tentang Seks Bersama Anak

Anak tetap butuh belajar tentang seksualitas. Seiring pertumbuhan mereka, anak akan mulai mengenal dunia seks, dari belajar area seks tubuh hingga mengenal perilaku seks terhadap lawan jenis. Dari mata turun ke hati, dan mulai coba-coba sentuh-menyentuh tubuh lawan jenis.

Luangkan waktu untuk mengajari anak-anak Anda tentang seks dan hubungan. Anak laki-laki akan mengembangkan sikap yang lebih baik tentang seks dan cara berhadapan dengan perempuan nantinya. Anak akan belajar banyak tentang seks dari bebagai media, dari teman, dan entah dari mana saja. Ayah bisa berperan bagaimana tentang belajar seks yang aman kepada anak.

Belajar Tentang Nilai Positif

Anak tidak akan senang dinilai negatif oleh orang tuanya. Anak bodoh, anak durhaka, dan berbagai caci maki akan mempengaruhi keperibadian anak. Sebagai ayah berlaku positif kepada anak dan sering puji prestasi mereka.

Kalau anak berbuat salah, beri nasihat dan bicarakan dengan baik. Ayah harus menciptakan cara-cara positif dalam kehidupan anak sehari-hari

pixabay.com

Mari Ayah, perkuat hubunganmu dengan anak laki-lakumu. Ayah bisa menghabiskan waktu bersama dan berbicara tentang pelajaran hidup, menjadi pendengar yang baik, tetap menjalin hubungan yang baik Bersama anak. Mudah-mudahan anak akan membalas kasih ayah suatu hari kelak.